Hal-hal yang diajarkan Alkitab tentang keluarga

Amsal 31:1-31

Sebenarnya di dalam seluruh pergumulan keluarga dan di dalam relasi suami-istri dan di dalam relasi keluarga dengan gereja dan pekerjaan, maka sebenarnya ada 3 hal yang paling utama, tetapi hari ini saya tidak mungkin menyelesaikan ketiga-tiganya karena khususnya yang terakhir itu akan membahas masalah yang besar. Pertama berkenaan dengan keseimbangan antara keluarga dan gereja. Kedua berkenaan dengan perkataan Yesus, “Jikalau engkau itu tidak membenci suamimu, istrimu, ayahmu, ibumu, anak-anakmu, engkau tidak bisa mengikuti Aku.” Ini adalah sesuatu yang sering sekali disalah mengerti. Ketiga sebenarnya adalah bicara mengenai ordo. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa suami itu kepala rumah tangga, kepala istri. Sekarang gerakan feminism sedang melanda luar biasa untuk membuat wanita sejajar dengan laki-laki.

Saya tidak akan menjelaskan point yang ketiga karena itu akan memerlukan seminar sendiri dan waktu berjam-jam untuk menjelaskan dengan tepat berkenaan dengan ordo ini. Tetapi saya akan memberi hint terlebih dahulu point yang ketiga, meskipun saya tidak jelaskan di sini, supaya jangan ada unsur dosa di dalam diri kita mengambil advantage dari ayat tersebut. Ketika Paulus meyatakan suami adalah kepala istri dan istri harus tunduk kepada suami, sama seperti Kristus adalah kepala jemaat dan jemaat itu harus tunduk kepada Kristus. Sebagai suami tidak berarti saudara boleh abuse istri. Harus diingat, relasi suami-istri, suami adalah kepala keluarga dan istri adalah pewaris tahta kasih karunia Allah itu adalah relasi cinta dan hormat. Kalau suami tidak mencintai istri, kalau suami tidak korban untuk istri, kalau suami itu tidak sungguh-sungguh mengerti pergumulan istri, tak mungkin istri itu akan menghormati suami. Standarnya itu adalah Kristus dan jemaat. Bukankah Kristus yang mati terlebih dahulu bagi jemaat? Jemaat itu tidak kenal Kristus, tetapi Kristus terlebih dahulu mati, maka jemaat kemudian mau menyerahkan hatinya. Jaman sekarang terjadi peperangan yang besar antara laki-laki dan perempuan, tetapi kalau saudara mengerti prinsip ini, yang disebut sebagai biblical order, biblical ordo, itu akan menjadikan sesuatu hal yang indah di dalam kehidupan keluarga kita. Suatu hari kalau Tuhan pimpin, maka saya akan berbicara lebih dalam lagi tentang hal ini. Sekarang saya akan masuk ke dalam kesulitan di dalam pikiran kita mengerti ayat-ayat Alkitab tentang keluarga yang sering sekali disalah mengerti.

  1. Berkenaan antara kerja, keluarga dan gereja.
    Ini adalah hal yang terus-menerus akan menarik hati dan pikiran kita, dan kemana pun saja saudara-saudara melangkah, kalau kita tidak mengerti prinsip Alkitab, selalu akan dipenuhi dengan guilty feeling yang tidak perlu. Kita berpikir bahwa keseimbangan itu adalah masalah dengan waktu, sebenarnya tidak demikian. Sebelum saya jelaskan prinsip Alkitab, maka kita harus hati-hati dengan perenungan pikiran kita, kalau tidak, nanti kita akan bersalah kepada Tuhan. Apa yang saya mau katakan adalah sering sekali kita selalu against berkenaan dengan gereja dan keluarga. Padahal kalau kita mau berpikir dengan cermat, yang menghabiskan paling banyak waktu bukan gereja, tetapi kerja. Tetapi mengapa di dalam hidup kita, kita tidak pernah complaint mengenai kerja? Kita sedang tidak fair untuk menempatkan masalah ini. Mari kita baik-baik memikirkan Firman. Baik-baik untuk kita berhati-hati di dalam pikiran kita yang sudah jatuh di dalam dosa. Di luar sana orang-orang yang tidak mengenal Allah mengambil waktu orang-orang yang sudah ditebus oleh Kristus dari pagi sampai malam dan kita tidak pernah complaint sekalipun. Tetapi ketika kita bicara berkenaan dengan gereja, hanya 1 minggu 2 jam, kalau saudara-saudara mengikuti 1 persekutuan yang lain mungkin 2 jam lagi, 1 minggu hanya 4 jam, saudara bekerja 1 hari 8 jam, saudara tidak pernah complaint terhadap dia. Biarlah kita boleh berhati-hati akan hati kita. Apakah sungguh-sungguh kita takut kepada Tuhan? Kenapa yang selalu dibenturkan adalah keluarga dan gereja? Kenapa saudara tidak pernah membenturkan antara keluarga dan pekerjaan? Apa yang sedang terjadi dalam hidup kita? Nah saudara-saudara, biarlah perkataan-perkataan yang tajam ini biarlah boleh menembus hati kita, dan biarlah Roh Kudus boleh menyadarkan kita.

    Saya tidak sedang berbicara berkenaan dengan kepentingan keluarga yang lebih rendah daripada kepentingan gereja, sama sekali tidak. Perhatikan baik-baik, prinsip di dalam Alkitab bukan keseimbangan tetapi keutuhan. Prinsip di dalam Alkitab tidak seperti ini, untuk keluarga, untuk pekerjaan dan untuk gereja masing-masing 5 jam. Bukan di dalam area jam, bukan fenomenanya, tetapi adalah esensinya secara keseluruhan, the wholeness, integrate. Salah satu masalah ketika dosa sudah masuk di dalam hidup manusia, maka manusia itu menjadi disintegrate. Manusia tidak pernah bisa wholeness, tidak pernah bisa berintegrasi. Manusia tidak pernah utuh hidup di hadapan Allah. Kalimat itu sama seperti yang dikatakan oleh Yesaya, padahal Yesaya adalah orang yang dipakai oleh Tuhan, yang ketika berhadapan dengan Allah, kemudian dia melihat dan mendengar malaikat itu berseru: “Suci, suci, sucilah Tuhan!” Langsung dia itu mengatakan: “Celaka aku! Aku orang yang berdosa! Celaka aku!” Kalimat itu boleh diumpamakan seperti satu gelas beling yang jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping (disintegrate).

    Hidup kita ini penuh dengan dimensi-dimensi, ada pasangan hidup kita, perlu uang untuk makan, perlu berelasi dengan mertua dan orang tua, berelasi dengan teman-teman sosial. Kita perlu untuk beribadah di dalam gereja, kita perlu ada talenta studi, saya perlu waktu studi, ada anak-anak yang menuntut kita 24 jam, dan lain sebagainya. Seluruh area hidup ini, kalau kita tidak mengerti core-nya, kita akan ditarik-tarik terus. Seorang anak muda yang terus pergi bersama teman-temannya, orang tuanya akan bertanya dan menariknya. Seorang suami yang terus pulang larut malam, istrinya akan bertanya dan meminta ia memperhatikan anak-anaknya. Hidup kita yang sudah jatuh di dalam dosa terus akan pecah dan terjebak kalau kita tidak mengerti bagaimana kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan di dalam Firman dan Firman itu meluruskan hidup kita. Dan saya mengerti, bahkan di dalam diri saya, ketika kita itu melakukan sesuatu yang begitu sangat meminta waktu di satu tempat, lalu kemudian mulai muncul guilty feeling. Saudara tidak usah bicara mengenai gereja dan keluarga, saudara lama di tempat pekerjaan pun ada guilty feeling terhadap keluarga. Kita berpikir untuk menyeimbangkan, saudara tidak akan pernah mungkin bisa menyeimbangkan sampai saudara mendapatkan core-nya.

    Mari kita perhatikan baik-baik Amsal 31:10-31. Amsal 31 menyatakan seorang istri yang bekerja. Masalahnya bukan di sana, tetapi bagaimana cara menyeimbangkannya? Saya tidak pernah mengatakan bahwa istri tidak boleh bekerja, hanya mengurus anakmu terus di rumah. Istri-istri yang tidak bekerja belum tentu lebih baik anaknya daripada istri-istri yang bekerja. Tetapi apa motivasinya bekerja? Saudara mesti hati-hati karena itu akan mempengaruhi spirit anak kita dan membuat anak kita entah mencintai Tuhan atau membenci Tuhan. Kita tidak bisa melihatnya sekarang. Kita akan melihatnya belasan tahun setelah itu. Apakah seorang istri bertanggung jawab untuk bekerja mengembangkan talenta, atau jika memang keuangan sangat kurang? Jawabannya adalah ya. Di tempat yang lain, apakah istri bertanggung jawab untuk mengasuh anak? Jawabannya adalah ya. Apakah ia bertanggung jawab untuk mengabarkan Injil? Jawabannya adalah ya. Apakah ia bertanggung jawab untuk berdoa syafaat? Jawabannya adalah ya. Maka seluruh aspek ini bukan aspek keseimbangan. Ini adalah bicara mengenai wholeness. Lihatlah perempuan dalam Amsal 31 ini, dia bekerja, tetapi perhatikan, domestic job, tanggung jawab internal itu diselesaikan. Banyak orang bekerja untuk keluar dari tanggung jawabnya karena tidak suka terhadap tanggung jawab yang ada. Kita harus hati-hati karena itu akan mempengaruhi spirit seluruh keluarga kita. Jikalau saudara bekerja karena merasa perlu untuk memenuhi segala keinginanmu (misalnya beli apartemen 5, mobil 6 dll), jika demikian yang mendorong kita itu bukan takut akan Tuhan, tetapi greedy. Pasti rumah tanggamu hancur karena itu dilihat oleh anak. Maka orang perempuan boleh kerja? Maka saya mendorong saudara bekerja, apalagi kalau saudara-saudara adalah orang yang pandai, tetapi keluarga saudara harus tetap diselesaikan.

    Saya cerita dua peristiwa yang benar-benar terjadi. Satu adalah seorang anak yang punya mama dan kemudian akhirnya keluarga itu sulit sekali, lalu kemudian mamanya dari pagi sampai hampir larut malam bekerja keras untuk membiayai keluarganya. Ketika dia harus keluar rumah, dia keluar dengan air mata, terus memikirkan keluarganya, minta belas kasihan Tuhan untuk boleh mendapatkan makanan supaya anaknya bisa hidup. Setelah anaknya itu besar, menikah, maka dia mengatakan, “Mama, terima kasih karena engkau sudah bekerja keras, berkorban bagi aku. Terima kasih.” Dia peluk mamanya dan seumur hidup, maka anak ini terus-menerus akan membiayai mamanya karena sayang, mengetahui mamanya bekerja keras untuk dia. Orang yang kedua, pada saat pernikahan, ketika acara penghormatan kepada orang tuanya, anak yang menikah ini memberikan bunga lalu berbicara,” Mama, saya berterima kasih karena pada waktu aku kecil aku masih ingat mama akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaan untuk mengasuh aku. Aku berterima kasih, Ma.” Inti dari semuanya adalah mama yang pertama dan mama yang kedua itu satu, yaitu pikul salib. Jikalau engkau mau keluar kerja, kerja karena engkau pikul salib, tetapi kalau engkau keluar kerja karena engkau tidak suka di rumah, itu adalah hal yang salah. Sama halnya dengan hamba Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, saya harus mengasihi jemaat, saya harus kerja keras untuk jemaat, dan saya harus mengasihi keluarga, saya harus bekerja keras untuk keluarga. Saudara harus kerja keras untuk menghidupi keluarga, saudara harus mengasihi keluarga, saudara harus kerja keras untuk nama Kristus dipermuliakan di dalam gereja. Kita harus berjuang, dengan lutut kita berdoa kepada Tuhan, itu seluruhnya adalah tanggung jawab kita.

    Perempuan di Amsal 31 itu ketika dia bekerja dan urusan rumah tangga diselesaikannya, suaminya bangga. Perhatikan baik-baik, suaminya tidak diperdaya oleh wanita ini. Dari kerja keras wanita ini, maka suaminya menjadi orang yang dihormati, anak-anaknya berbahagia. Di sini kita melihat bagaimana dia bekerja keras di luar rumah, di dalam rumah, dan kemudian dikatakan bahwa ia membuat pakaian dari lenan, menjualnya. Pakaiannya adalah kekuatan, kemuliaannya, dan ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Dia sedang berbicara tentang Firman kepada anak, kepada seluruh keluarga. Jikalau seorang perempuan bekerja adalah karena untuk superioritas, untuk mendapatkan profit, maka di situ kegagalan dari keluarga itu. Bagaimana ibu di Amsal 31 ini bisa tetap memiliki keseimbangan? Dalam ayat 30: “Istri yang takut akan Allah dipuji-puji.” Jadi ini adalah core-nya. Jadi sekarang, apa yang ada di tengah-tengah isi hatimu dan keluargamu? Kalau Allah tidak ada di tengah, maka engkau pasti akan hancur. Engkau mendapatkan segala sesuatu tetapi hidup pernikahanmu tidak akan bahagia. Perhatikan sekarang seluruh area hidup itu akan terus menerus akan tarik menarik kecuali saudara mendapatkan core-nya untuk membuat sesuatu hal yang firm, yang balance dan di titik tengah itu siapa? Alkitab mengatakan fear of the Lord – takut akan Allah.

    Jikalau ada fear of the Lord – maka saudara mencari nafkah karena tahu itu adalah panggilan. Saudara berdamai dengan mertua itu adalah panggilan. Saudara bergaul dengan banyak teman, itu adalah calling, menjadi saksi dan garam bagi dunia ini. Saudara keluar untuk study karena itu panggilan dan semuanya karena fear of the Lord. Ketika ada seseorang bertanya kepada saya ingin melayani, saya katakan melayani dengan sungguh-sungguh tetapi satu hal yaitu ketika waktumu begitu banyak dipakai untuk pelayanan sekaligus engkau harus perhatikan dan bereskan seluruh keluargamu. Karena ini adalah the wholeness, integrate, seluruhnya. Engkau melakukannya karena takut akan Allah. Apakah fear of the Lord ada di dalam hatimu? Kalau iya jalankan saja dan kau tidak akan merasa bersalah karena Tuhan akan mengkonfirmasi engkau. Tetapi jikalau tidak ada, maka sebenarnya seluruh kehidupan kita adalah kehidupan yang self-centered, tidak mau dipakai oleh Tuhan dan tidak mau pikul salib, tidak mau bayar harganya. Sekali lagi kuncinya adalah apakah aku melakukan ini karena takut akan Tuhan? Amsal 4:23 ayat yang berkali-kali saya katakan. Mari periksa diri kita masing-masing dengan jujur dengan tulus terbuka di hadapan Allah, apakah inti dari hati kita? Apakah itu fear of the Lord? Ataukah hal-hal yang lain? Karena dari hati terpancar seluruh kehidupan. Kalau hati kita hedonism, pleasure at any cost, terpancar dari seluruh kehidupan. Kalau hati kita fear of the Lord terpancar dari seluruh kehidupan.

    Saya berharap dalam poin pertama ini saudara mengerti sekali lagi, mengerti tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah, semuanya the wholeness, saudara harus persembahkan kepada Allah. Pada saat penghakiman terakhir Dia akan tanya: Bagaimana hubungan dengan suami/istrimu? Beres? Menjaga kesucian? Engkau mengasihi dia? Bagaimana hubungan dengan anak-anak? Beres? Engkau mendidik dia? Bagaimana dengan talenta yang Aku berikan kepadamu? Banyak orang yang malas tidak mau untuk menggali talentanya di dalam pekerjaan dengan alasan-alasan sebenarnya adalah dia malas. Biarlah kita boleh mengerti, jagailah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari sanalah terpancar kehidupan. Saya akan akhiri poin pertama ini dengan Firman Tuhan yang mengatakan, orang yang takut akan Tuhan, Roh Kudus akan bekerja di dalamnya dan salah satu tandanya adalah dia suka diam di rumah Tuhan. Jangan terbalik, bukan semua orang yang ada di gereja pasti cinta sama Kristus, tetapi orang yang cinta Kristus pasti akan pergi ke gereja. Mazmur 84:2-8. Sekali lagi, bukan masalah keseimbangan tetapi keseluruhan, the wholeness, hidup yang utuh dipersembahkan kepada Allah dalam seluruh hidup dan keluarganya, dan boleh menjadi satu hati melayani bersama keluarganya terus di rumah Tuhan, terus itu menjadi keinginan kesukaannya, karena dia melihat ada visi yang baru dan dia akan membawa, menggunakan apapun saja yang menjadi talentanya, yang menjadi uangnya, yang menjadi pekerjaannya untuk kemuliaan bagi nama Tuhan. Pikirkan baik-baik dan biarlah saudara boleh mengerti core-nya, The commitment of your heart.

  2. Lihat Matius 10 : 34-38. Apakah benar bahwa Yesus meminta kita untuk membenci seluruh keluarga kita sama seperti Dia membenci pekerjaan setan? Perhatikan baik-baik, salah satu dari ciri interpretasi bidat adalah mengambil satu ayat Alkitab, menekannya dan melupakan ayat-ayat yang lain. Bukankah di Alkitab dikatakan: Hormatilah orang tuamu? Bukankah di dalam Alkitab dikatakan bahwa suami cintailah istri dan istri tunduklah kepada suami? Bukankah di dalam Alkitab bahkan Yesus mengatakan bahwa engkau harus mencintai musuhmu dan bukan membencinya? Dia bahkan mengatakan: Jikalau ditampar pipi kiri, engkau berikan pipi kanan. Engkau disuruh berjalan 1, engkau berjalan 3 langkah bersama dia. Bukankah itu adalah bentuk dari cinta? Bukankah Allah sendiri mengatakan bahwa Aku mengasihi engkau dan God is love? Ayat ini bukan anti-tesis. Ayat ini adalah paradoks.

    Anti-tesis adalah 2 hal yang akan bertentangan dan sampai kapan pun saja dan di dalam kekekalan pun, saudara tidak pernah mungkin akan mendamaikannya. Contoh kalimat anti-tesis dalam Alkitab yaitu engkau tidak bisa memilih 2 tuan. Engkau harus pilih salah satu, God or mammon. Kalau saudara mencintai uang, saudara tidak pernah bisa, sampai kapan pun saja, engkau mengatakan: Aku mencintai ini untuk hidupku untuk mulia bagi Kristus. Tidak pernah mungkin, itu adalah kebohongan. Alkitab mengatakan: Cinta akan uang adalah sumber seluruh kejahatan. Tuhan tidak katakan: Punya uang sumber kejahatan. Yang membuat orang itu jahat, itu cinta uang, bukan uangnya. Jadi uang itu netral. Itu adalah milik Allah yang dipercayakan kepada kita. Tetapi cinta uang itu berarti hati kita itu mendekap pada dia. Itu akar segala kejahatan. Maka itu adalah kalimat anti-tesis.

    Tetapi ketika kita bicara berkenaan dengan suami-istri, orang tua-anak, ini bukan anti-tesis. Ini adalah paradoks. Paradoks itu adalah dua hal yang secara fenomena luar itu bertentangan tetapi di dalamnya ada satu keindahan kalau saudara menemukan kuncinya untuk menyatukan semuanya. Tuhan mau supaya kita mengasihi keluarga kita, supaya gereja memiliki keluarga-keluarga yang sehat dan saling mengasihi. Orang-orang yang dipakai menjadi kesaksian di luar adalah orang-orang yang Tuhan berikan anugerah dalam persekutuan yang indah dalam suami istri di dalam gereja. Tuhan mau engkau makin lama saling mengasihi antara suami-isteri, orangtua dan anak-anakmu. Tetapi mengapa ayat ini begitu sangat tajam? Sekarang saya akan jelaskan arti ayat ini bukan membenci seperti saudara itu tidak suka dan membuang.

    Arti ayat ini dalam bahasa aslinya adalah love-less. Love-less itu adalah sesuatu sedikit atau boleh dikatakan lebih sedikit daripada cinta kepada Kristus. Apa artinya? Jikalau kita adalah orang yang lahir baru, anak-anak Tuhan yang sejati, maka Roh Kudus akan memberikan pertumbuhan rohani dan saudara-saudara perhatikan pertumbuhan rohani itu akan makin lama makin kita itu mengasihi keluarga kita. Tetapi jikalau belum lahir baru maka belum terjadi demikian. Orang yang sungguh mengasihi Tuhan, makin lama makin mengasihi keluarga dengan kesucian dan kemurnian bukan dengan interest pribadi. Dan ketika kita mengasihi keluarga kita dengan makin lama makin suci dan murni, Roh Kudus akan memberikan sesuatu pertumbuhan rohani lagi, yaitu kita melihat kemuliaan Kristus dan Dia menjadi segala-galanya dalam hidup kita. Kita makin mencintai Dia dan apa yang Yesus katakan adalah jikalau kita masuk ke dalam stage seperti ini dalam pertumbuhan rohani tentu seumur hidup tidak ada yang sempurna, maka kita akan sadar makin lama kita akan makin mengasihi Kristus lebih daripada mereka dan gap itu, perbandingan itu, seperti cinta dan benci. Karena mengasihi Kristus jauh lebih besar daripada mengasihi keluarga kita.

    C.S. Lewis mengatakan, jikalau kita makin lama makin mengasihi Kristus dan seakan-akan itu cinta pada Kristus lebih besar dibandingkan dengan cinta kepada keluarga seperti cinta dan benci, tetapi pada saat yang sama engkau akan menyadari bahwa engkau akan mengasihi keluargamu jauh lebih besar dan lebih dalam dari sebelumnya. Ketika saya mendapatkan pengertian ini hati saya melonjak kegirangan. Tuhan, Engkau itu begitu penuh dengan hikmat, dan hikmat-Mu itu benar-benar tersembunyi kecuali kalau engkau memberikan kepada kami Roh Kudus-Mu. Yesus mengatakan kalimat-kalimat paradoks ini, barangsiapa mau mempertahankan, engkau akan kehilangan. Barangsiapa mau menyerahkan nyawanya, engkau akan mendapatkannya. Jikalau engkau merelakan seluruh keluargamu, mengasihi Kristus lebih daripada anakmu, engkau akan tahu, anakmu akan semakin mengasihi engkau. Jikalau engkau mau melepaskan hakmu dan berdoa, “Tuhan meskipun suami saya itu begitu kejam tapi aku tidak akan mencari untuk dia mencintai aku, Tuhan tolong untuk dia boleh takut kepada nama-Mu.” Begitu suamimu mencintai Tuhan maka dia akan menuju ke rumahmu dan mencintai engkau lebih daripada sebelumnya. Ini adalah jalan keselamatan yang Tuhan itu berikan pada kita. Saudara berpikir kalau dia sudah cinta pada Kristus pasti dia tidak cinta sama aku, tidak, sama sekali tidak.

Saya akan akhiri seluruh khotbah ini dengan dua cerita yang sungguh-sungguh terjadi. Pertama adalah cerita John Sung. Suatu hari dia sebenarnya sudah memiliki satu perjanjian untuk dia pergi keluar kota untuk sebuah kebaktian kebangunan rohani yang besar dan John Sung adalah orang yang sangat sibuk, dia jarang sekali bertemu dengan keluarganya. Tetapi hari itu dia sempat pulang rumah dan kemudian dia tetap harus pergi lagi untuk beberapa bulan atau beberapa minggu, saya lupa. Tetapi hari itu, ketika dia akan berangkat, istrinya sekarat, hampir mati, istrinya itu berada di dalam kesakitan yang begitu besar dan John Sung sangat mencintai istrinya. Maka di dalam posisi seperti ini, John Sung tidak bicara banyak, dia pandang istrinya, dia berlutut di depan ranjang istrinya, dia berdoa kepada Tuhan minta belas kasihan untuk istrinya. Tidak ada air mata. Tulisan itu mengatakan John Sung kemudian menguatkan dirinya, berdiri dan kemudian melangkah untuk melayani Tuhan di kota yang lain karena sudah ada perjanjian dan dia sama sekali tidak membelokkan kepalanya. Kalau saudara orang yang tidak dewasa, jikalau saudara menjadi istri John Sung, saudara akan terluka dan berkata bahwa engkau laki-laki yang tidak cinta kepada istri. Tetapi kalau engkau melihat the whole story, mengapa dia tidak mau berlinang air mata karena supaya istrinya tidak sedih dan dia meninggalkan istrinya, dia tidak membalikkan badan, kenapa? Karena dia sangat mencintai istrinya tetapi dia mesti mencintai Tuhan dan pada saat itu, hatinya mencintai istrinya dengan cinta yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Itu adalah rahasia-rahasia misteri kehidupan.

Orang yang kedua adalah Hudson Taylor. Sebelum Hudson Taylor menjadi misionaris, orang tuanya terus mendoakannya agar anaknya dipakai Tuhan di China. Pada hari itu setelah dia menjadi besar akhirnya dia memutuskan memang panggilan Tuhan pergi ke China. Ketika orang tua Hudson Taylor akan pergi ke suatu tempat dan papanya harus berpisah karena harus pergi ke kota lain, catatan itu mengatakan bahwa papanya naik kereta api, Hudson Taylor dan mamanya itu kemudian menunggu dan kereta api itu perlahan-lahan bergerak meninggalkan mereka. Hudson Taylor lari-lari kecil karena tahu pergi ke luar negeri pada waktu itu sangat mungkin untuk tidak kembali ke rumah seumur hidup. Dan itu adalah perpisahan hampir sama dengan perpisahan kematian tetapi dia tahu panggilan Tuhan dan kemudian dia melambaikan tangan ke papanya sampai ujung dari jalan itu. Dia bersama dengan mamanya. Beberapa hari kemudian kapal itu berangkat, dan mamanya dengan berat hati melepaskan dia dan kemudian dia ada di geladak kapal itu. Hudson Taylor terus melambaikan tangan ke mamanya. Kapal itu mulai makin lama makin meninggalkan pelabuhan itu, air mata terus ada, mungkin tidak bertemu, mungkin bertemu di Surga. Terus kemudian Hudson Taylor ingat sesuatu, dia masuk ke tempatnya tempat dia simpan bukunya, dia ambil buku lalu kemudian dia tulis I love you Mom, lempar buku itu dan kemudian mamanya itu lihat dan pegang, I love you Mom.

Jikalau kita mau menyerahkan seluruh orang yang kita kasihi untuk mengasihi Kristus lebih daripada kita, saudara-saudara akan melihat satu hal bahwa orang tersebut mencintai kita lebih dari sebelumnya. Jangan salah mengerti ini dan jangan bodoh dan jangan ditipu oleh setan. Kasihilah Kristus lebih daripada sebelumnya, jangan engkau pertahankan dirimu dan engkau kehilangan dirimu. Kau pertahankan hakmu dan engkau kehilangan suamimu. Engkau pertahankan cintamu kepada anakmu dan anakmu melihat mama begitu egois dan engkau tidak akan mendapatkan cinta anakmu. Ini adalah cinta Kristus yang murni yang suci yang membuat kita boleh memiliki satu keluarga yang indah bagi Tuhan. Kiranya Kristus dipermuliakan. Kiranya keluarga kita boleh diberkati.